OzAlum Podcast

Eps #26 Menemukan Dosen Pembimbing: Langkah Penting dalam Perjalanan Riset Anda

Australia Global Alumni in Indonesia Season 1 Episode 26

Use Left/Right to seek, Home/End to jump to start or end. Hold shift to jump forward or backward.

0:00 | 30:49

🎓🔎 Bagaimana cara menemukan dosen pembimbing yang tepat untuk studi PhD atau Masters by Research di Australia?

Dalam episode OzAlum Podcast, Raissa Almira berbincang bersama Dr Faiz, alumni Australia Awards, membahas salah satu langkah terpenting dalam perjalanan riset: menemukan dan membangun kerja sama dengan pembimbing yang tepat. 

Dr Faiz membagikan tips praktis tentang memahami peran seorang supervisor, mengidentifikasi calon pembimbing yang keahliannya selaras dengan minat risetmu, serta cara menghubungi mereka dengan komunikasi yang jelas dan profesional. Beliau juga merefleksikan pentingnya mengelola ekspektasi, menyikapi masukan secara konstruktif dan menjaga kesehatan mental selama proses penelitian.

Buat kamu yang sedang mempersiapkan pendaftaran Beasiswa Australia Awards atau baru mau memulai perjalanan riset, episode ini menghadirkan panduan berharga supaya kamu bisa melangkah dengan lebih percaya diri dan terarah 

*woosh*

Raissa Almira: Bisa diceritakan sedikit nggak Pak, gimana perjalanan Bapak mencari dan memilih dosen pembimbing?

*woosh*

Dr Faiz: Lihat dari saya baca paper mereka kan kelihatan tuh, cara penulisan yang mereka, kemudian apa yang mereka harapkan.

*woosh*

Raissa Almira: Kenapa sih memilih dosen pembimbing yang tepat itu penting banget?

*intro*

Raissa Almira: Halo OzListeners, selamat datang kembali ke OzAlum Podcast. Sebuah podcast yang membahas mengenai Australia, Beasiswa Australia Awards dan juga aluminya yang keren-keren bersama aku, Raissa Almira. Hari ini kita akan membahas mengenai perjalanan PhD dan juga Master by Research, terutama tentang dosen pembimbing dan hari ini aku kedatangan tamu yang spesial banget yaitu adalah Pak Faiz. Halo Pak Faiz. 

Dr Faiz: Halo Mbak Raissa.

Raissa Almira: Yeay, Pa Faiz merupakan alumni Australia Awards Scholarship yang dulu berkuliah di Swinburne University of Technology di Melbourne, jurusan apa pak?

Dr Faiz: Jurusan Business and Management mbak.

Raissa Almira: Yes. Kita langsung aja ke pertanyaan pertama yaitu adalah perkenalan. Mungkin Bapak bisa ceritakan nih, siapa bapak, apa kesibukan bapak ke teman-teman audiens?

Dr Faiz: Halo, OzListeners. Nama saya Faiz. Saat ini saya bekerja di Kementerian Perdagangan, di Direktorat Perdagangan Melalui Sistem Elektronik dan Perdagangan Jasa. Jadi kurang lebih pekerjaan saya itu membuat regulasi untuk membuat iklim perekonomian yang positif di bidang perdagangan digital, termasuk marketplace, e-commerce dan sebagainya. Kemudian selain itu saya juga menjadi pengulas di beberapa jurnal internasional, tapi itu ga selalu ada. Terus saya juga masih menyelesaikan projek dengan supervisor saya yang terakhir untuk pengembangan UMKM di beberapa wilayah 3T di Indonesia.

Raissa Almira: Berarti tesis Bapak masih nyambung sama projek yang tadi atau beda?

Dr Faiz: Ada sebagian bagiannya dari penelitian saya yang masuk ke projek.

Raissa Almira: Padahal udah lulus 2 tahun yang lalu ya?

Dr Faiz: Lulusnya 2 tahun lalu, tapi kan masih ada yang masih masuk sampai sekarang.

Raissa Almira: Koneksinya bertahan lama. Oke pak. Kenapa sih Bapak Faiz dulu memilih Australia khususnya dan kenapa jurusan itu, kampus itu? Mungkin bisa diceritakan kenapa bapak pilih opsi tersebut.

Dr Faiz: Jadi Mbak Raissa, sebelum saya memutuskan untuk mendaftar Australia Awards, saya melakukan komparasi dari beberapa beasiswa yang tersedia saat itu. Kemudian dari beberapa pertimbangan saya memutuskan untuk mendaftar Australia Awards. Yang pertama karena ada pre-departure, menurut saya itu sangat membantu karena menyesuaikan pengetahuan kita tentang Australia, bukan hanya akademik tapi untuk kehidupan di sana. Yang kedua, saya juga mempertimbangkan global networking karena penerimanya bukan cuma dari Indonesia aja tapi dari berbagai negara. Saya jadi punya kenalan dari berbagai negara yang mungkin nama negaranya saya saat itu belum tahu. Saya baru tahu saat itu. Kemudian yang ketiga adanya dukungan finansial untuk riset. Dan yang terakhir karena saya bawa keluarga. Ada family support dalam bentuk CCS family benefit. Jadi subsidi untuk anak untuk mahasiswa PhD.

Raissa Almira: Jadi banyak ya alasannya kenapa ya Pak?

Dr Faiz: Ya ada beberapa alasan dan saya menyimpulkan itu yang paling tepat untuk saya saat itu.

Raissa Almira: Lalu mengapa universitas dan jurusan itu Pak, selain negaranya Australia dan juga Beasiswa Australia Awards Scholarship?

Dr Faiz: Yang pertama karena riset saya itu spesifik tentang transformasi digital di UMKM. Kemudian saya coba cari beberapa kampus dan saya berkesimpulan kalau kampus saya saat itu unggul untuk di bidang entrepreneurship and innovation. Terlihat dari jumlah supervisor yang banyak dan disitu ada fakulti khusus yang ditujukan untuk entrepreneurship.

Raissa Almira: Jadi memang kita harus fokus ke spesifik bidang studinya ya kalau memilih kampus buat S3 gitu ya pak? Yang bisa mendukung sama tersedia.

Dr Faiz: Iya, dan tersedia supervisor-nya juga.

Raissa Almira: Oke pak. Bisa gak sih bapak ceritain sekilas mengenai riset selama PhD dan juga mungkin relevansinya dengan orang-orang yang ambil Masters by Research?

Dr Faiz: Oke, Mbak. Kalau PhD ini balik lagi ke tiap kampus mungkin punya syarat yang berbeda, tapi sejauh pengetahuan saya mbak, kurang lebih kalau di Australia itu diselesaikan 3-4 tahun dengan beberapa milestone, mulai dari pertama ada namanya confirmation of candidature, kemudian ada, kalau ada yang punya, meet candidate review dan terakhir draft thesis review, baru dimasukan. Lazimnya gak ada “Viva” ya mbak, jadi gak ada ujian, jadi kita masukkan aja. Mungkin ada beberapa yang ada, tapi setahu saya nggak ada lah ya untuk di Australia. Kurang lebih seperti itu. Terus kemudian dikumpulkan, baru nanti ada masukan dari penilai external, baru kita revisi dan selanjutnya baru bisa dinyatakan lulus. Kata-katanya kurang lebih 100.000 kata dengan, ini tergantung subjeknya juga ya tergantung subjeknya, Jadi variabel-variabel penelitiannya juga tergantung pada subjek itu. Kalau untuk yang Master by Research itu setahu saya mungkin kata-katanya jauh lebih sedikit, sekitar 50.000-60.000. Kemudian waktunya juga lebih singkat, 2 tahun dan mungkin ekspektasi supervisor saya juga, depth of research-nya sedikit di bawah tingkat PhD. Kurang lebih seperti itu.

Raissa Almira: Tapi banyak juga yang langsung menyambungkan gitu ya Pak ya dari S2 ke S3 jika mengambil Master by Research, right? PhD biasanya juga.

Dr Faiz: Ya, bisa. Biasanya tuh ada yang dikonversi ya, pertama ambil Master by Research kemudian setelah confirmation of candidature, dikonversi ke tingkat PhD. 

Raissa Almira: Oke kita udah tau nih mengenai latar belakang dari riset bakal perjalanannya gitu ya dan sekarang kita akan fokus mengenai dosen pembimbing ini Pak. Menurut Bapak nih, apa sih peran dosen pembimbing selama bapak studi di Australia? Seberapa penting mereka? Silahkan pak.

Dr Faiz: Oke mbak, kalau boleh saya sedikit cerita tentang latar belakangnya. Jadi ada dua supervisor saat saya mengambil studi PhD. Ada principal supervisor dan ada second supervisor. Kemudian saya sih menganggap mereka sebagai mitra penelitian ya, jadi bukan sebagai atasan, bukan sebagai bos. Karena saya menganggap dia sebagai mitra penelitian, ide-ide penelitian itu datangnya dari saya sebenarnya. Mereka hanya mengarahkan gitu. Kira-kira apa yang bisa di-explore dari saya atau mereka, mungkin bahasanya mereka mencoba membuka semua pengetahuan yang saya miliki ke arah jadi bisa buat semua potensial yang kita miliki. Kemudian, kalau dari pengalaman saya sih, membedakan kita dengan mereka sebagai sama-sama peneliti gitu ya. Mereka sudah punya pengalaman nih, kita nggak punya. Itu yang kita cari sebetulnya dari supervisor untuk mengarahkan projek kita. Pada akhirnya, yang mengerjakan ini kita, kita yang harus bertanggung jawab. Cuman kalau kita ada ketidaktahuan, kita bisa konsultasi kepada mereka. Kurang lebih begitu. Ini tujuannya sih sebenarnya untuk menjaga agar riset kita tetap sesuai tujuan, tidak bergeser dari rencana awal. Tidak terlalu lama, tidak mengundur-undur waktu lah, kurang lebih seperti itu.

Raissa Almira: Ya. Berarti kita masih butuh untuk proaktif ya Pak ya? Ga bisa ngikut aja gitu ya? Penting teman-teman.

Dr Faiz: Itu penting.

Raissa Almira: Oke, menurut Bapak saat dulu tuh peran dosen pembimbing di luar akademis tuh bagaimana Pak? Contohnya, profesional Bapak nih, di luar tesis.

Dr Faiz: Iya.

Raissa Almira: Gimana?

Dr Faiz: Saya cukup beruntung dan saya yakin mungkin banyak, hampir semua kali ya, dosen pembimbing tuh sebenarnya suportif di luar tesis kita. Kemudian, sebagai contoh, kalau dari pengalaman saya, mereka mendorong saya untuk ikut konferensi akademik di berbagai kota. Saya pernah tanya, kenapa saya harus ikut konferensi akademik sana-sini, sana-sini. Sederhana, jawabannya untuk melatih public speaking saya, bisa bicara di depan publik dan itu sebenarnya nggak terlalu relevan dengan tesis saya. Yang kedua, mereka juga, yang saya ingat selalu membawa saya ke kenalan mereka ya, jadi memperkenalkan saya ke baik itu dari industri, baik itu sesama profesor, sama pengajar dari berbagai kampus gitu ya. Jadi jaringan kita juga jadi semakin luas. Mereka juga mendorong saya untuk terus menulis gitu ya. Baik itu tingkatnya koran, majalah, atau jurnal akademik. Ya, dalam setiap kesempatan sih yang saya lihat mereka akan selalu melebarkan kapasitas saya gitu ya mbak.

Raissa Almira: Oke. Jadi memang sangat suportif ya pak ya? 

Dr Faiz: Iya, gitu mbak.

Raissa Almira: Oke, jadi kita udah tau nih apa sih peran dari dosen pembimbing. Sekarang kita akan lanjut ke topik selanjutnya, yaitu adalah bagaimana sih cara mencari dosen pembimbing yang tepat. Oke pak, bisa diceritakan sedikit nggak pak, gimana perjalanan bapak nih mencari dan memilih dosen pembimbing? Kan banyak banget opsinya ya pak? Gimana cara memilihnya tuh?

Dr Faiz: Kalau dari pengalaman saya, nyari dosen pembimbing ini gampang-gampang susah mbak. Kalau yang saya lakukan tuh, yang saya ingat saat itu saya cek website hampir semua kampus di Australia yang fakultasnya kira-kira sesuai dengan minat saya. Kemudian biasanya mereka punya tuh ada namanya academic profile section. Kita buka aja disitu, kita coba cari. Terus nanti kita coba baca satu per satu, terus cek profil dari pengajar yang risetnya mungkin mirip-mirip dengan riset kita. Saya waktu itu bikin tabel ya, jadi saya tulisnya, di kampus A misalkan ada namanya profesor siapa, terus emailnya saya tulis juga. Terus saya cari nih hampir dari semua kampus lah saya coba cari-cari, ketemu mungkin saat itu 12 gitu ya, mungkin ya saat itu ketemu 12. Terus dari 12 itu saya coba cari lagi paper mereka. Saya mungkin baca 2-3 paper terakhir dari si calon supervisor ini. Terus lihat dari saya baca paper mereka kan kelihatan tuh, gaya penulisannya mereka, kemudian apa yang mereka harapkan dari kita, ya kurang lebih kita bisa mencoba cari. Saya kemudian seleksi lagi dari 12 tadi, kira-kira jadi sekitar 4 atau 5 gitu. Dari 4 atau 5, nah itu baru yang akhirnya saya coba email.

Raissa Almira: Berarti nggak 12 bapak email?

Dr Faiz: Jangan-jangan. Itu pun nggak disaat yang bersamaan gitu. Kita coba emailnya mungkin ada jeda waktu gitu antara satu dengan yang lainnya.

Raissa Almira: Apakah mereka ini semua di Swinburne atau beda-beda?

Dr Faiz: Beda-beda. Ada, tapi memang beberapa di Swinburne gitu ya. Tapi ada yang dari kampus lain juga gitu ya.

Raissa Almira: Oke, mungkin banyak banget pertanyaan dari temen-temen semua. Untuk tantangannya apa nih pak selama itu dan bagaimana cara bapak melalui tantangan ini?

Dr Faiz: Yang pertama tuh ya kita harus menyadari mbak, profesor-profesor ini sibuk, waktunya ga banyak. Banyak habis untuk mengerjakan pekerjaannya mereka lah. Jadi tantangannya yang pertama, yang saya rasakan pertama email tidak dibalas mbak. Kalau email tidak dibalas, wajar karena mungkin mereka sibuk. Tapi kalau udah kita kirim berkali-kali ke beberapa orang, kok semuanya nggak dibalas, mungkin itu waktu yang tepat buat kita refleksi. Apa nih yang kurang dari email kita atau dari riset kita? Apa ada yang perlu kita coba perbaiki, perlu kita coba ubah gitu. Apa mungkin karena topik kita mungkin terlalu umum atau terlalu ketinggalan jaman gitu. Udah gak jamannya lagi nih ngomongin ini, tapi kita masih ngomongin itu aja. Sekali lagi, salah satu cara yang paling tepat ya kita membaca paper dari si calon supervisor itu, baru kita ngeliat state of the art nya sekarang gimana gitu ya. 

Raissa Almira: Dan juga baca paper relevan sama riset kita kali ya Pak ya, biar kita tau apa.

Dr Faiz: Betul. Ini menurut saya normal ya, siklus ini menurut saya normal. Terus ada juga tantangan lainnya tuh, kalau tadi email tidak dibalas, ini email dibalas tapi bilangnya atau mereka bilang, saya saat ini lagi gak nerima mahasiswa baru, atau karena sibuk, atau karena lagi sabatical leave. Ini mungkin kalau saya boleh lihat ini udah tanda yang baik lah ya. Boleh kita tanya, kira-kira ada rekomendasi nggak? Apa ada mereka kenal koleganya yang bisa mem-supervise projek kita.

Raissa Almira: Jika pertama kali email tuh apakah langsung lampirkan proposal riset atau kita pendekatan dulu nih pak? Kira-kira baiknya gimana nih?

Dr Faiz: Oh, yang berdasarkan pengalaman saya dan beberapa temen yang waktu itu saya sempet diskusi, ya biasanya sih kita ini ya mbak, kita dalam email kita ada body email kita masukkan juga tuh si proposal risetnya.

Raissa Almira: Langsung?

Dr Faiz: Langsung, dengan CV kita juga biasanya kita ikut masukkan.

Raissa Almira: Jadi CV, proposal riset, sama body email ya?

Dr Faiz: Body email ya setidaknya dijelaskan siapa kita pertama, yang kedua, kita jelaskan apa riset kita tapi sederhana aja. Terus yang ketiga, jelaskan mengapa kita pengen dia. Yang keempat, terus kita juga jelaskan ya boleh lah agak-agak naik tingkatan kita lah ya, kenapa kira-kira kita bisa dipilih lah oleh mereka. Kemudian yang kelima ya tadi saya bilang, masukkan CV maupun proposal riset.

Raissa Almira: Berarti untuk nomor tiga untuk kita bilang kenapa harus dia, berarti kita harus baca paper-nya dulu ya pak ya? 

Dr Faiz: Betul, karena ga ad acara lain untuk mencari tahu.

Raissa Almira: Oke baik, jadi dua tantangan ya pak ya Pa Faiz selama ini ya?

Dr Faiz: Iya betul. 

Raissa Almira: Baik, tadi kita udah membahas bagaimana contoh email yang sekiranya oke nih teman-teman. Sekarang kita akan fokus ke bagian yang menyampaikan ide riset pak, di email ataupun di komunikasi. Kira-kira gimana nih pak biar terkesannya tuh gak begitu terlalu kaku dan juga takutnya mengunci. Kan kalau kita terlalu terpaku, takutnya dosennya merasa oh ini udah tetap nih, ngapain aku bimbing gitu, mungkin ya pak ya? Jadi gimana caranya biar bisa lebih fleksibel tapi tetap kuat gitu. 

Dr Faiz: Iya iya. Mungkin di email itu kita bisa tekankan kalau saya terbuka untuk diskusi. Jadi ini tidak, apa ya, bukan harus ini gitu ya. Kalo supervisor atau profesor punya saran, kita bisa akomodasi gitu ya. Terus boleh juga dibilang kalau kita belum yakin-yakin banget, saya masih mencari topik ini gitu. Terus ini menunjukkan kalau kita punya keseriusan, kita udah baca-baca tapi kita mencari arahan dari mereka juga. Terus kalau saya boleh saran juga jangan terlalu membual mungkin ya.

Raissa Almira: Gimana tuh?

Dr Faiz: Di email itu ya misalkan ya, terlalu kalimat yang berlebihan. Jadi, tetap rendah hati juga. Kalau dosen saya dulu selalu bilang, KISS, keep it simple and straightforward gitu. 

Raissa Almira: Oke, jadi jangan terlalu puisi gitu ya. 

Dr Faiz: Gitu sih. Ringkas dan kredible ya. 

Raissa Almira: Oke. Jadi bapak langsung ke poinnya ya? Gak yang, halo dadah-dadah, baru di email selanjutnya. Gak ya, bapak langsung?

Dr Faiz: Betul. Bahkan lebih baik hal yang sederhana, itu lebih baik daripada ide yang sangat besar tapi tidak jelas. Tapi ya harus ringkas itu tadi. 

Raissa Almira: Oke baik. Dari pengalaman Bapak, apa sih kesalahan yang sering banget pelamar lakukan saat menghubungi dosen pembimbing? Selain tadi yang mungkin lupa refleksi mungkin ya, kira-kira apa lagi nih Pak yang bisa dipetik biar bisa diceritakan ke teman-teman di rumah semua?

Dr Faiz: Mereka belum kuat dengan risetnya ya. Misalkan, ya ini mungkin karena belum baca-baca sampai riset yang terakhir dari state of the art di bidang itu. Itu yang pertama, yang kedua seperti yang tadi saya bilang mbak, terlalu membual. Ini seperti mungkin bahasanya akan merubah dunia dan sebagainya. Tetap rendah hati aja mungkin. Selanjutnya kesalahannya mungkin ada yang terlalu umum, jadi kayak nggak fokus gitu. Dear Profesor, I do want a PhD, misalkan. Terus, nggak dipersonalkan. Misalkan kalau namanya profesor siapa, tekankan juga saya udah baca beberapa paper anda tentang ini dan ini, sesuai dengan minat riset saya atau mungkin juga orang ngirim email terlalu panjang Mbak. Mereka nih kan sibuk nih biasanya dan waktu mereka berharga gitu ya. Jadi balik lagi KISS yang tadi ya. Terus, ya itu aja sih mungkin tambahannya.

Raissa Almira: Tadi ada yang Bapak sebutkan cukup menarik. Bapak bilang jangan langsung email banyak diwaktu yang bersamaan ya? Email blast, nah kenapa tuh? Karena banyak banget orang yang langsung "woosh" biar cepet dapet gitu, gimana pak?

Dr Faiz: Pertama kalo semuanya jawab iya, nanti gimana?

Raissa Almira: Oh iya. Oke. 

Dr Faiz: Yang kedua kan kita gatau mbak kalo mereka ternyata berteman dan ngobrol-ngobrol. Itu mungkin akan apa ya, mungkin ga merusak tapi ya mungkin dia akan kalo melihat kita atau temennya bercerita, ini sama nih, ngirim email juga. Mungkin meragukan keseriusan kita bener-bener mau cuman sama dia. Walaupun emailnya di personalisasi, tapi kan kalau orang email ke koleganya di personalisasi juga kan ya. 

Raissa Almira: Noted, oke. Nah kan setelah resmi menjadi mahasiswa PhD, tentunya tantangannya gak berhenti nih pak ya, malah kerjasama dengan dosen pembimbing itu penting banget. Nah kira-kira dulu bapak gimana sih caranya berkomunikasi dengan dosen pembimbing dan juga menetapkan ekspektasi yang benar nih sama mereka, selama proses pengerjaan tesis juga termasuk saat pertemuan dan juga pemberian masukan pak? Selama komunikasi selama studi PhD.

Dr Faiz: Yang pertama mbak, biasanya sih kalau kita udah dapat supervisor ya, nanti ada pertemuan pertama, kita sepakati ini, mau supervisory meeting-nya berapa kali dalam sebulan. Kalau lazimnya sih ya yang saya dan beberapa teman saya, fortnightly ya, jadi setiap dua minggu sekali minimal ketemu. Jadi mereka juga nggak kehilangan kita, bukan nggak kehilangan kita ya, maksudnya kayak mereka bisa tetap tau kita ya, progres kita dan kita juga kalau ada pertanyaan bisa langsung segera ditanyakan ke mereka. Yang pertama set frekuensi nih pertemuan, tapi itu harus didiskusikan ya dengan dosen pembimbing. Kemudian diskusikan juga, biasa kalau kita ketemu nih kan ada ngebahas apa nih yang mau kita bahas.

Raissa Almira: Agenda pertemuannya ya?

Dr Faiz: Iya agenda pertemuannya apa atau apa yang mau kita tanyakan, bahan itu kita harus sampaikan ke supervisor kita kapan nih, 2 atau 3 hari sebelum kita ketemu biar mereka punya waktu untuk bisa baca dulu, jadi begitu kita ketemu mereka gak baca lagi, udah tinggal langsung. Menurut saya ini yang perlu ditambahkan, ini dan ini. Jadi benar-benar saat ketemu, langsung ke poinnya aja yang ingin kita tanyakan. Terus bisa juga kita menyepakati tentang capaian-capaian dalam PhD, yang pertama confirmation of candidature. Itu beberapa kampus memperbolehkan 9-12 bulan, kita tanya nih baiknya mau yang 9 bulan atau 12 bulan, ada beberapa supervisor yang kalau bisa sedikit aja ya, 9 bulan. Tapi ada beberapa juga ya, yaudah kita maksimalin aja kalo boleh 12 bulan, ya 12 bulan, tapi benar-benar ini itu gitu misalnya ya. Ini juga harus disepakati. Terus, ya apalagi mungkin ada publikasi supervisor-nya pengen mungkin dalam waktu 4 tahun ini publikasi lah di beberapa jurnal internasional gitu. Jurnalnya apa gitu misalkan, itu harus didiskusikan di awal. Terus kerjasama seperti konferensi akademik, mau berapa kali menghadiri konferensi akademik. 

Raissa Almira: Itu dari awal atau gimana?

Dr Faiz: Sebenernya dari awal, setidaknya kita punya gambaran ya mbak. Kalo ada 2 atau 3 konferensi yang akan kita hadiri, kita harus ngapain nih kira-kira? Dalam setahun pertama ini kita harus apa, minimal bahan apa yang sudah kita siapkan. Sama seperti publikasi tadi juga.

Raissa Almira: Ini masih ada yang bingung nih mas, kan kalau kita nyari supervisor biasanya satu aja kan ya? Kalau supervisor mau daftar, nyari 1 orang saja kan ya? Tapi pas masuk kok jadi 3, kok jadi 2, itu gimana? 

Dr Faiz: Itu tergantung dengan kespesifikan riset kita. Kalau riset kita bisa dilihat dari dua bidang gitu ya mbak, biasanya principal supervisor kita akan ngajak yang lain. Ini mungkin akan lebih baik kalau kita undang dia untuk menjadi second supervisor. Rata-rata sih seperti itu ya mbak. Selain dari waktunya mungkin ya mbak dan kita nggak tahu nih mbak, ini akan panjang nih, 4 tahun kalau seandainya kenapa-napa sama supervisor minimal ada yang kedua lah mbak. Jadi yang tahu riset kita gitu ya.

Raissa Almira: Tapi kalau untuk pertemuan ini sama berdua atau satu-satu?

Dr Faiz: Biasa berdua mbak. Jadi waktunya dicari yang dua-duanya bisa. Jadi kita lebih banyak menyesuaikan ya.

Raissa Almira: Ya, ikutin jadwal mereka.

Dr Faiz: Walaupun sepengalaman saya, mereka pasti akan menanyakan, "Kamu bisa gak di hari ini, jam segini?" Jadi kita bisa menolak sebenarnya, meskipun saya gak pernah menolak. Ikutin aja. Waktu mereka lebih berharga daripada saya. 

Raissa Almira: Oh ya nih pak, pas pertama kali daftar itu kan, apakah butuh supervisor untuk AAS apa gak usah?

Dr Faiz: Jadi, gak harus nih. Tapi, mungkin kalau bahasa highly desirable, kalau masih ada waktu, memungkinkan, coba aja dicoba, dicari potensial supervisor-nya.

Raissa Almira: Nah, apa butuh melampirkan sebuah dokumen, Pak?

Dr Faiz: Ada istilahnya letter of support gitu ya. Letter of support dari si supervisor itu yang intinya sih, bukan menjamin ya, intinya bersedia untuk menjadi, bersedia untuk membimbing projek ini kurang lebih seperti itu.

Raissa Almira: Oke, berarti untuk mendaftar pun juga hanya satu ya? Gak langsung dua?

Dr Faiz: Iya hanya satu, nanti biasa yang kedua tuh saat masuk, kita udah daftar, udah enrollment semuanya, baru deh dicarikan yang kedua atau ada yang ketiga. Beberapa kasus sampai ada yang empat. 

Raissa Almira: Wow. Oke, Oke siap. Nah, saat Bapak menghadapi perbedaan pendapat ataupun masukkan bersifat kritis dari dosen, dulu Bapak tuh gimana menyikapinya? Biar kita tuh lebih, apa ya, tahan banting dan juga menyikapinya agar tetap konstruktif.

Dr Faiz: Yang pertama, kuncinya sih, jangan diambil secara personal. Semuanya berdasarkan projek kita gitu ya, yang dikritik sama dia kan projek kita, bukan kitanya, itu yang pertama. Kalau di kasus saya ya mbak, biasanya kalau kritiknya cukup tajem gitu ya, mungkin saya gak langsung bales saat itu. Saya diamin dulu, biar tenang dulu. Besokannya baru kita coba bales emailnya. Tapi jangan didiamin juga ya mbak ya, harus direspon gitu ya. Responnya kalau udah tenang lah ya. Saya juga sambil refleksi, apa nih yang dimaksud dengan si supervisor saya. Apa ada kekurangan di sini dan di situ. Terus bahasanya sih, mungkin saya tekankan aja ya, kalau saya balas respon. Kalua saya tangkap dengan benar, maksud kamu ini, ini, ini, ini ya misalkan. Tapi kalau kita mau debat, itu juga memungkinkan. Jadi selama didukung sama bukti ya, sama referensi yang jelas gitu ya. Terus ada rasional kita untuk menantang argumen dia itu boleh-boleh aja dan mereka sepengalaman saya sangat egaliter dan bisa menerima masukan itu. Jadi ya boleh-boleh aja gitu, gak harus kita ngikutin apa yang dia mau. Ada kalanya tuh, kalau kita yakin benar dan di dukung bukti dan selanjutnya boleh aja, gak apa-apa.

Raissa Almira: Oke baik terima kasih. Selain aspek akademik kan, riset juga sangat dekat dengan kondisi mental kita dan juga kehidupan personal kita nih. Rasa stres, kesendirian, pasti sering banget mahasiswa di sana merasakan nih pak, termasuk PHD dan juga Master by Research. Nah dulu Bapak ini gimana caranya untuk melewati kesendirian ini?

Dr Faiz: Itu menurut aku wajar, Mbak, karena kan PhD ini 4 tahun ya mbak dan setiap hari, dari saya treat ini seperti pekerjaan gitu, jadi dari jam 9 pagi sampai jam 5, kita biasa dikasih kantor nanti. Ada satu kantor beberapa mahasiswa PhD gitu. Dari jam 9 sampai jam 5 kita ada di kantor itu ngerjain pekerjaan yang topiknya mirip-mirip gitu setiap hari, wajar kalau kita bosen gitu atau lelah, ingin istirahat. Biasanya yang aku lakukan itu, aku konsisten, Mbak. Jadi setelah jam 5, nggak mau ngapa-ngapain lagi. Sebelum jam 9 juga sama, gak ngapa-apain lagi. Sabtu Minggu aku pakai buat liburan, terus kita dapet ini mbak, dapet cuti tahunan. Itu saya maksimalin gitu ya.

Raissa Almira: Seperti bekerja ya?

Dr Faiz: Seperti bekerja, ada cuti tahunan. Jadi kita dapet nih empat minggu.

Raissa Almira: Selama 4 tahun, 4 minggu doang?

Dr Faiz: Sori, setiap tahunnya 4 minggu.

Raissa Almira: Oh iya oke oke. 

Dr Faiz: Setiap tahunnya 4 minggu. 

Raissa Almira: Oke lumayan. 

Dr Faiz: Sama kalau kayak, kalau Master kan biasa ada ini mbak, ada yan semesternya belum mulai, ada libur, itu bisa sebulan lebih gitu kan, itu bisa dipake buat liburan, buat macem-macem. Itu aku maksimalin tuh. Terus kalo emang udah stres gitu ya, jangan sampai sih stres, kalau seandainya stres, ada banyak nih dukungan eksternal dari kampus juga, ada bisa konseling di kampus. Terus, teman-teman, teman kita ini juga cukup penting nih. Ngerjain hobi juga cukup menghilangkan stres dan yang terakhir ya keluarga. Bisa ke keluarga. Terus kalau semua udah dikerjain, masih tetap ngerasa seperti itu, kita sampein. Bisa sampein juga ke supervisor, kita bosen dan sebagainya. Mungkin dia ada solusi nih. Ya udah kalau itu mungkin kerjain yang lain dulu nih, kan projek kita macem-macem mbak. Mungkin dia bilang, yaudah kalau kamu lagi bosan di misalkan part literature review, ya coba kerjain yang lain deh, atau kerjain paper, atau persiapan buat konferensi gitu.

Raissa Almira: Kalau PhD itu apakah hanya fokus dengan tesis apa tadi tiba-tiba konferensi? Apakah konferensinya membahas tesis atau beda topik tapi mirip gitu?

Dr Faiz: Biasanya sih subset dari topik kita ya mbak, masih berhubungan gitu ya. Walaupun masih berhubungan sebagian kecil lah ya.

Raissa Almira: Jadi emang gak hanya tesis aja ya, tapi bisa banyak, tapi juga subset dari 

Dr Faiz: Iya betul betul. 

Raissa Almira: Oke deh. Tadi kan Bapak cerita ya Pak ya, dari awal emang Bapak masih kolaborasi sama dosen pembimbingnya untuk projek sekarang. Nah, berarti itu menunjukkan memang koneksi itu gak akan berhenti teman-teman. Nah, Bapak ini gimana sih dulu caranya, gimana ya, membangun koneksi ini dan juga menjaga hubungan baik dengan dosen dan bagaimana peran beliau sebagai mentor Bapak?

Dr Faiz: Kebetulan saya sama supervisor saya masih sering berkirim-kiriman WA, sebulan sekali atau email kadang-kadang. Lebih seringnya sih WA sih kadang-kadang. Sebulan sekali. Kadang-kadang suka nelpon juga. Masih berhubungan baik, kita masih bekerja sama, masih komunikasi lah ya. Terus kalau saya bisa lihat sih, relasinya berkembang dari supervisi menjadi kolegial karena ada beberapa projek yang dikerjakan. Supervisor yang baik menurut saya itu bukan hanya membantu kita bisa lulus, tapi juga yang membantu meningkatkan kita setelah lulus. Gitu Mbak. Beliau juga masih aktif memperkenalkan saya ke kolega-koleganya mereka gitu ya, baik itu rekan industri maupun profesor, sesama profesor.

Raissa Almira: Oke baik, jadi memang peran mereka sebagai mentor juga masih terasa gitu ya. Oke baik. Oke pertanyaan terakhir, menurut Bapak, kenapa sih memilih dosen pembimbing yang tepat itu penting banget dan apakah kira-kira Bapak memiliki masukan dan juga saran bagi teman-teman semua, gimana cara memilih dosen pembimbing yang benar dari awal?

Dr Faiz: Durasinya kan lama ya 4 tahun, jadi sebisa mungkin kita mencari supervisor yang sesuai dengan apa yang kita inginkan gitu ya. Yang risetnya sesuai dengan apa yang, apa ya, sesuai dengan minat kita. Karena kalau kita mencari yang tidak sesuai dengan minat kita, nanti mereka mungkin mengarahkan sesuai dengan minat mereka yang sebenarnya kita nggak setuju nih, nggak suka-suka banget tapi asal yang penting dapat dulu deh. Nah itu bisa menjadi masalah karena dalam 4 tahun ini kita mengerjakan sesuatu yang gak kita inginkan, kalaupun dapat ilmunya, ilmunya mungkin hanya setengah-setengah. Selain itu ya banyak energi yang terbuang. Karena hubungan jangka panjang ya mbak. Seperti yang tadi juga ya, mau gak mau harus tau minat risetnya pertama, terus mungkin kalau bisa ya, kalau bisa dilihat saat itu supervisor-nya udah ada berapa mahasiswa. Mungkin kalau terlalu banyak juga akhirnya waktunya agak sulit nih ketemu. Cari yang masih gak terlalu banyak gitu, itu saran aja sih, meskipun saya punya keyakinan meskipun dia banyak, harusnya dia yang nolak nih kalo ini.

Raissa Almira:  Oh dia yang nolak ya?

Dr Faiz: Dia harusnya nolak gitu. Biasanya di website tuh ada mbak, available to supervise project, PhD project itu biasanya bisa atau tidak bisa. Biasanya dia akan tulis tuh langsung tidak bisa. Kalau tidak bisa, yaudah gak usah kita email lagi, karena pasti udah gak.

Raissa Almira: Udah disaring ya. 

Dr Faiz: Udah disaring, tapi ada gak semua kampus website-nya menyediakan itu sih. Harus kita tanya. Jadi beberapa yang ada ya ada. 

Raissa Almira: Memang kita kan gak bisa langsung kenal karena jarang juga berkomunikasi sebelum ketemu jadi emang kuncinya adalah riset ya mengenai orang ini ya? Di Google cari semua.

Dr Faiz: Iya, betul. Semua profilnya ada, kalau mereka pernah menjadi pengajar tamu, mungkin kita juga bisa lihat di YouTube gitu ya atau kalau Google Scholars terkait dengan paper-nya dia yang terakhir, gaya penulisan, seperti itu ya.

Raissa Almira: Oke baik. Wah sebuah pesan yang oke banget nih pak. Terima kasih banyak untuk ceritanya hari ini.

Dr Faiz: Sama-sama. 

Raissa Almira: Aku yakin banget banyak banget calon pelamar yang sangat tercerahkan dari masukan Bapak Faiz. Nah kita udah di ujung podcast nih temen-temen. Waktunya aku buat ngingetin bahwa seluruh informasi mengenai Australia Awards Scholarships ada di website Australia Awards Indonesia. Jadi jangan lupa untuk cek disana dan juga media sosialnya Kedubes dan juga Konjen Australia disini. Selain itu temen-temen, aku mau kasih tahu, kita akan kasih hadian nih 5 merchandise dari Australia Awards Indonesia ke 5 orang yang mau sebar podcast ini ke media sosial kalian. Bisa lewat X ataupun Instagram Story or Post. Jangan lupa untuk mention Kedubes Australia juga pakai hashtag OzAlum Podcast. Setelah di-post, jangan lupa untuk isi link di bawah ini buat konfirmasi. Nanti pemenangnya akan kami kontak. Oke teman-teman, terima kasih banyak. Sampai jumpa lagi.

*Outro*