OzAlum Podcast
Do you ever wonder how Australian alumni have gone on to achieve success after studying in Australia? Now you have the chance to find out as our alumni share unique stories about their experiences, knowledge and networks gained while in Australia that have helped them most in their journeys and key intersections of opportunity and alumni connections that have propelled them to where they are today. We have some talented alumni guest hosts lining up for exclusive interviews with our guests. Listen in our OzAlum podcast find out how these inspiring alumni let their lives speak and the unexpected twists and tale of life at each intersection along the way.
OzAlum Podcast
Eps #27 Mengapa Menempuh PhD di Australia? Riset, Dampak dan Kehidupan Setelah Lulus
Use Left/Right to seek, Home/End to jump to start or end. Hold shift to jump forward or backward.
Mengapa memilih Australia untuk studi PhD? 🎓🇦🇺
Dalam episode OzAlum Podcast kali ini, host Raissa Almira berbincang dengan OzAlum Dr Yulisna Mutia Sari untuk membahas bagaimana pengalaman studi di Australia membentuk perjalanan akademik sekaligus memberikan dampak jangka panjang bagi karier profesional.
Dr Yulisna berbagi alasan mengapa Australia menjadi pilihan yang selaras dengan minat riset dan aspirasi kariernya. Bercermin dari pengalamannya, ia juga menceritakan dukungan yang ia terima melalui Beasiswa Australia Awards, serta berbagai keunggulan akademik maupun nonakademik dari menempuh studi PhD di Australia – mulai dari bimbingan akademik yang suportif, lingkungan riset yang kuat, peluang kolaborasi internasional, hingga komunitas yang terbuka dan ramah. Ia juga menjelaskan bagaimana pengalaman tersebut membekalinya untuk mengambil peran kepemimpinan dan memberikan kontribusi nyata setelah menyelesaikan studi doktoralnya.
Bagi kamu yang sedang mempersiapkan diri untuk melamar Beasiswa PhD Australia Awards atau mempertimbangkan studi doktoral di Australia, episode ini menghadirkan berbagai wawasan praktis untuk membantumu menapaki perjalanan tersebut dengan lebih percaya diri.
*woosh*
Raissa Almira: Bagaimana menurut Ibu lingkungan Australia yang sangat beragam, inklusif, ramah, khususnya bagi mahasiswa PhD saat itu? Apakah ada kesan tertentu tentang Australia sebagai sebuah negara?
*woosh*
Dr Yulisna Mutia Sari: Australia sangat ramah dengan keseimbangan hidupnya, Hal itu dapat terlihat, mulai dari lingkungan akademik dan teman, hingga supervisor yang sangat mendukung.
*woosh*
Dr Yulisna Mutia Sari: Seperti perpustakaan dan ruang publik, semuanya sangat ramah anak. Anak-anak bisa sibuk tanpa harus bermain gawai, karena fasilitasnya sudah disediakan, dan itu pastinya berbasis penelitian dan bukti ilmiah untuk mendukung perkembangan mental dan kognitif anak.
*woosh*
Raissa Almira: Peluang apa saja,Bu, yang ibu dapatkan untuk riset kolaborasi dan presentasi di forum ilmiah, maupun kolaborasi bersama peneliti internasional?
*intro*
Raissa Almira: Halo OzListeners, selamat datang di OzAlum Podcast. Sebuah podcast yang membahas mengenai Australia Awards Scholarships, Australia dan para alumninya yang keren-keren, bersama aku, Raissa. Hari ini kita akan membahas seputar PhD, mulai dari alasan memilih Australia, pengalaman menjalani riset selama studi, lalu kenapa Australia menjadi negara favorit untuk mengembangkan riset yang berdampak, hingga kehidupan setelah lulus. Kita akan berbincang bersama alumni kita, Ibu Yulisna. Halo Ibu.
Dr Yulisna Mutia Sari: Halo, Mbak Raissa.
Raissa Almira: Ibu merupakan penerima Australia Awards tahun berapa?
Dr Yulisna Mutia Sari: 2019.
Raissa Almira: Oke, sampai tahun berapa Bu?
Dr Yulisna Mutia Sari: 2023.
Raissa Almira: Baik, dari Monash University, jurusan apa, Ibu?
Dr Yulisna Mutia Sari: Fisioterapi.
Raissa Almira: Baik, kita akan membahas pengalaman PhD dari perspektif penerima beasiswa. Mungkin kita bisa mulai dengan perkenalan, Mungkin Ibu Yulisna bisa ceritakan kepada teman-teman mengenai kesibukan yang ibu jalani saat ini, dan latar belakang ibu?
Dr Yulisna Mutia Sari: Oke, terima kasih Mbak Raissa. Saya adalah seorang peneliti di Monash University Indonesia. Dengan latar belakang saya adalah seorang fisioterapis dan saya menempuh S3 fisioterapi di Monash University di Melbourne, Australia. Kesibukan saya saat ini tentunya menjalani peran saya sebagai peneliti, lalu juga berperan sebagai seorang ibu dari dua anak.
Raissa Almira: Jadi S3-nya melalui Australia Award Scholarship, jurusan fisioterapis, dan sekarang masih berkaitan erat dengan bidang tersebut, ya Ibu?
Dr Yulisna Mutia Sari: Betul
Raissa Almira: Oke baik. Menarik sekali Bu, Mengapa Ibu memilih Australia dan Monash University sebagai tujuan PhD? Mungkin bisa ceritakan prosesnya dan pertimbangannya?
Dr Yulisna Mutia Sari: Untuk latar belakang fisioterapinya, Australia itu menjadi salah satu negara terbaik untuk bidang ilmu fisioterapi, begitu. Jadi, itu mengapa Australia menjadi salah satu pilihan untuk tujuan saya kesana . Lalu, juga kebetulan S2 saya juga di Australia, di University of Wollongong.
Raissa Almira: Wollongong, Baik.
Dr Yulisna Mutia Sari: Iya, jadi saya udah pernah disana dan udah jatuh cinta dengan Australia dan pastinya, kalau yang sudah pernah ke Australia pasti akan merasa,"Aku ingin balik lagi ke sana" pastinya.
Raissa Almira: Betul.
Dr Yulisna Mutia Sari: Oke, jadi ketika ingin melanjutkan studi lagi untuk S3 itu sudah menjadi daftar negara paling atas yang ingin saya tuju dan juga kebetulan karena itu jadi salah satu negara terbaik di bidang fisioterapi itu, jadi kenapa tidak.
Raissa Almira: Jadi memang tadi mengenai motivasi dan pertimbangan, mirip-mirip ya bu, karena memang universitas terbaik untuk fisioterapi. Kira-kira ada lagi faktor lain yang membuat ibu memutuskan untuk memilih Australia? Selain yang sudah Ibu sebutkan sebelumnya.
Dr Yulisna Mutia Sari: Oke, mungkin dari jarak ya? Jarak. Jadi, Australia itu maksudnya secara jarak tidak terlalu jauh dengan Indonesia, lalu juga ketika saya berangkat S3 itu, saya sudah punya anak, dua orang, jadi ketika saya kuliah S2 itu, waktu itu masih lajang, belum punya anak. Jadi ketika melihat, "Oh yang sudah punya family kayaknya diperhatikan sekali oleh Beasiswa Australia Awards".
Raissa Almira: Iya betul.
Dr Yulisna Mutia Sari: Selain itu, Australia juga menjadi salah satu negara yang saya lihat sangat ramah terhadap keluarga. Dengan anak dan juga untuk seorang ibu. Jadi keseimbangan hidupnya itu saya merasa benar-benar bagus. Jadi, ketika mendaftar, saya memilih Australia Awards Scholarship, lalu juga pasti tujuannya di Australia, itu seperti sudah punya jadi salah satu pandangan kedepannya, oke ini sepertinya yang terbaik untuk saya daftar.
Raissa Almira: Oke, jadi memang selain Australia, tapi juga beasiswanya ya, Bu?
Dr Yulisna Mutia Sari: Betul.
Raissa Almira: Tadi ibu sudah cerita mengenai bagaimana Australia Awards Scholarship perhatian sekali dengan keluarga, ibu ya? Mungkin bisa di elaborasi lagi, kira-kira apa yang membedakan? Beasiswa ini dengan beasiswa lain bu.
Dr Yulisna Mutia Sari: Oke, jadi saat saya berangkat S3 ke Australia itu, saya posisinya punya anak bayi Mbak Raissa. Jadi waktu itu anak saya yang kedua itu, Naya. Itu usianya 7 bulan dan saya waktu itu masih menyusui. Jadi mulai dari persiapan ke departure training dan sebagainya itu sudah ramah sekali terhadap ibu. Lalu, juga ketika saat proses keberangkatan juga saya dibantu mulai dari pengurusan visa begitu, lalu mulai dari ketika sampai di sana juga Mbak Raissa, saya juga cukup terkejut. Jadi representatif dari Australia Awards di kampus di Australia, juga mereka mempersiapkan untuk menjemput saya, lalu membantu untuk mencarikan akomodasi, hal-hal seperti itu. Jadi informasi-informasi sebagai seorang ibu pasti khawatir ya, di Australia nanti bagaimana ya bawa anak dan sebagainya begitu. Lalu, juga kampus-kampus di Australia juga sangat ramah ibu ya, mulai dari fasilitas misalnya untuk menyusui, lalu perpustakaan di sana juga maksudnya ramah anak. Ada ratusan, ribuan kegiatan di sana yang bisa menghibur anak-anak.
Raissa Almira: I see. Kalau itu Bu, yang 90% child subsidy bisa dijelaskan lebih lanjut, Yang 90% untuk childcare?
Dr Yulisna Mutia Sari: Kita juga dapat 90%. Itu membantu banget karena seingat saya itu sekitar satu hari ya, bukan satu bulan. Itu sekitar $125 kalau bayar sendiri.
Raissa Almira: Kalau bayar sendiri.
Dr Yulisna Mutia Sari: Dan ketika menjadi penerima Australia Awards itu kita bisa daftar untuk namanya subsidi untuk Child Care Benefit gitu, CCB. Lalu selain itu, anak saya yang pertama itu, Zafran, itu sudah masuk usia sekolah, Mbak, dan penerima Beasiswa Australia Awards itu bisa dapet sekolah gratis gitu. Jadi mendapatkan hak yang sama seperti warga lokal.
Raissa Almira: Lokal.
Dr Yulisna Mutia Sari: Ya warga lokal di sana. Jadi sudah tidak pusing lagi memikirkan biaya untuk masuk sekolah. Jadi semuanya gratis.
Raissa Almira: Keren sekali Bu ya. Oke, kita kan sudah membahas mengenai Australia sebagai negara yang ramah terhadap keluarga. Kita akan fokus pada akademiknya, Bu. Kira-kira selama ibu jadi mahasiswa PhD di Australia, peluang apa saja Bu yang Ibu dapatkan untuk riset kolaborasi dan juga presentasi di forum ilmiah ataupun kolaborasi bersama peneliti internasional? Bisa diceritakan mengenai akademiknya?
Dr Yulisna Mutia Sari: Baik, jadi selama studi PhD Mbak Raisa, kesempatan untuk kita mempublikasikan hasil riset, lalu juga presentasi di forum-forum ilmiah mulai dari forum setingkat lokal dalam kampus, lalu antar kampus, bahkan juga forum antar peneliti yang sudah para dewa-dewanya. Jadi kesempatan untuk ketemu, misalnya kalau ketika kita nulis, jurnalnya ini ada namanya, lalu di konferensi itu kita langsung ketemu sama orangnya, dan ketika kita studi di sana, itu menjadi salah satu hal yang memang, sebagai sebuah pengembangan ya untuk kita bisa, apa namanya, diskusi ilmiah dan bagi seorang mahasiswa PhD itu merupakan pengalaman yang sangat-sangat berharga. Dan di Australia memang sangat mendukung itu. Artinya kampus-kampus di sana memang seperti mendorong, bahkan mungkin mewajibkan untuk bisa presentasi dan untuk pergi untuk mempresentasikan studi kita dan akhirnya antar para peneliti yang memang satu rumpun biasanya itu akhirnya kan saling kenal, disitulah relasi juga dimulai begitu. Akhirnya dari saling berkenalan, jadi saya sempat ketemu sama salah satu peneliti di Australia dan akhirnya setelah itu kita kolaborasi riset bareng, itu ketemunya di konferensi. Jadi memang di Australia sangat mendorong dan mendukung mahasiswanya untuk bisa presentasi. Nah selain itu, ada juga seperti forum-forum antar fakultas. Jadi kayak ketemu juga dengan sesama mahasiswa PhD ataupun para peneliti dari kampus maupun kampus lain. Nah, selain itu, selain dari kampusnya sendiri yang mendukung, misalnya dengan pendanaan, misalnya, berangkat, untuk tiketnya, untuk bayar biaya konferensinya begitu. Jadi saya dapat kesempatan waktu itu mendapatkan enrichment program dari Australia Awards Scholarship, jadi ada program menulis begitu ya, menulis tesis atau riset terus bagaimana untuk publikasi, dan itu Australia Awards yang mendesain dan mendatangkan pembicara yang memang sudah ahlinya begitu, lalu kita bareng-bareng ke Canberra, ke sana untuk bertemu penerima beasiswa yang lainnya juga. Jadi selain dari kampusnya yang sangat mendukung, lalu sepanjang perjalanan studi kita, Australia Awards juga mendukung dengan program dan juga dana. Jadi, kalau di waktu di angkatan saya itu kalau S2 kan bisa mendapatkan untuk kelas tambahan. Dana itu bisa dipakai untuk kita pergi ke konferensi.
Raissa Almira: Jadi semua dapat ya, baik profesional dan juga personal ya di Australia. Baik bu. Mengenai dosen pembimbing bu. Ini kan penting sekali ya, karena katanya yang mengarahkan kita ya pembimbing. Bagaimana perannya dosen pembimbing ibu saat dulu dalam profesional juga pengembangan diri ibu saat itu?
Dr Yulisna Mutia Sari: Oke, mungkin cerita sedikit. Jadi ketika saya daftar Australia Awards Scholarship, itu saat itu saya daftarnya di Curtin University di Perth. Di Perth. Saat itu kenapa saya memilih Curtin? Karena memang salah satu alasan paling utamanya adalah supervisor. Jadi supervisor yang sesuai dengan bidang keahlian yang saya minati dan sesuai dengan proposal penelitian begitu. Saat itu supervisor utama saya itu pindah ke Monash University di tahun kedua. Jadi memang saya pindah ke Monash University itu alasannya adalah memang mengikuti supervisor, karena saya beranggapan bahwa memang supervisor itu sangat penting.
Raissa Almira: Sepenting itu ya bu?
Dr Yulisna Mutia Sari: Penting sekali. Kuncinya begitu dan saya mendapatkan dukungan yang sangat besar sekali, dukungan total dari Australia Awards Scholarship memang untuk mensukseskan studi para penerima beasiswanya itu. Jadi, ketika saya bercerita dengan perwakilan Australia Awards di Curtin, mereka benar-benar mendukung apa pun yang kamu rasakan yang terbaik untuk kamu dan keluarga. Jadi memang ketika proses pindah itu juga, itu benar-benar dibantu banget. Jadi, ada komunikasi antara perwakilan di Curtin dengan yang di Monash University untuk membantu saya, membantu pindah ke kampus yang berbeda dan negara bagian yang berbeda.
Raissa Almira: Dan mereka membantu ya, padahal meninggalkan kampusnya.
Dr Yulisna Mutia Sari: Membantu sekali. Begitu semua proses mulai, semuanya dibantu.
Raissa Almira: Oke, keren sekali memang Australia Awards ini dan juga universitas-universitas di Australia. Oke bu, mungkin ibu bisa cerita sedikit mengenai riset ibu dan bagaimana hasil riset tersebut telah berkontribusi kepada kebijakan dan juga praktik ataupun memberikan dampak bagi masyarakat Indonesia.
Dr. Yulisna Mutia Sari: Oke, jadi untuk riset saya memang topiknya adalah keahlian saya di fisioterapi pada lansia. Jadi kita sebutnya gerontology, cabang ilmu yang memang saat ini mungkin di Indonesia belum terlalu banyak dikembangkan, terutama di bidang fisioterapi, ya Mbak Raissa. Jadi memang ketika saya disana, itu ada beberapa studi penelitian yang saya lakukan, 4-5 penelitian yang sudah dipublikasikan, dan itu juga benar-benar kampus di Australia yang memang sangat mendukung, mulai dari supervisor yang terbaik, lalu fasilitasnya. Mulai dari semua fasilitas seperti jurnal, buku, fasilitas-fasilitas untuk riset semuanya sangat dibantu. Lalu ditambah lagi untuk konferensi dan sebagainya. Jadi relasi itu benar-benar luar biasa menjadi kunci. Jadi, Alhamdulillah, semua studi saya dipublikasikan dan menjadi salah satu studi percontohan dan juga dipakai juga untuk di Asia Tenggara. Jadi di Asia Tenggara, di India dan sebagainya. Akhirnya saya berkenalan karena mereka, ketika saya konferensi, mereka tertarik. Oh ini studi percontohan di Indonesia dan ada kesamaannya dengan negara-negara Asia Tenggara, karena saya melihatnya dari budaya, bagaimana lansia itu melakukan olahraga, lansia dengan demensia itu perspektif mereka untuk tetap bugar, bagaimana dengan keluarganya, dukungan dari keluarganya, dan sebagainya. Jadi, ternyata dampaknya tidak hanya di Indonesia, karena saat ini Indonesia sangat butuh sekali dan sangat penting sekali terdapat peningkatan jumlah lansia yang sangat signifikan. Di Kemenkes juga sangat perhatian terhadap itu sekarang. Jadi memang salah satu hasil studi saya juga kemarin, saya sempat ngobrol dengan Kemenkes untuk membuat seperti pedoman untuk akhirnya bisa digunakan di Indonesia juga.
Raissa Almira: Berarti dulu Mbak sering bolak-balik Indonesia mengambil data atau gimana?
Dr Yulisna Mutia Sari: Oke. Karena COVID. Oke, jadi seharusnya saya kembali ke Indonesia untuk mengambil data. Hanya karena COVID itu sempat saya harus ganti metode penelitiannya, akhirnya saya melakukan, jadi tetap intervensinya sama, tetap dilakukan secara telehealth begitu. Tapi ternyata jadi menggunakan platform daring, misalnya Zoom dan sebagainya, jadi saya menyampaikan latihan untuk lansia dengan demensia begitu, tapi lewat telehealth. Tapi ternyata akhirnya, karena padahal berpikir, oh karena COVID, saya harus ganti dan sebagainya, tapi ternyata itu menjadi studi percontohan yang saya bilang tadi, yang untuk bisa digunakan sebagai acuan untuk perkembangan telehealth pemberian latihan selanjutnya.
Raissa Almira: Apalagi di dunia digital sekarang ya Bu ya?
Dr Yulisna Mutia Sari: Betul, begitu.
Raissa Almira: Oke Bu. Tadi kita sudah membahas mengenai keunggulan akademik ya, tapi tentunya PhD itu juga sangat membutuhkan dukungan dalam kehidupan personal Bu. Nah, Bagaimana lingkungan Australia yang sangat beragam, inklusif, ramah? Khususnya bagi mahasiswa PhD saat itu? Apakah ada kesan tertentu buat Australia sebagai sebuah negara?
Dr Yulisna Mutia Sari: Oke, jadi memang seperti yang saya sudah sampaikan sebelumnya, Australia sangat ramah ya dengan keseimbangan hidupnya, sangat-sangat kerasa jadi mulai dari lingkungan akademik sama teman, lalu juga supervisor itu sangat mendukung, malah supervisor yang selalu mengingatkan misalnya, "Let's celebrate." Misalnya sekecil apapun pencapaian kita, supervisor bilang, "Ok, Yulisna, you have to take like two days off. Celebrate with your family, enjoy your time." Jadi maksudnya mereka yang mendorong. Atau kalau misalnya dalam studi kan panjang ya, S3 empat tahun. Mungkin pasti ada naik turun ya. Jadi ada misalnya stagnan. "Yulisna, you want to take a day off?" Jadi supervisor yang malah mendukung untuk menjaga, menjaga kesehatan mental kita. "Do you need time with your family?". Misalnya, anak saya ada acara apa begitu. Dia benar-benar sangat, "Oh ya sudah tidak perlu, kita cancel meeting-nya. You go ahead with your family." Begitu, jadi benar-benar sangat mendukung seperti itu. Lalu selain itu juga kalau untuk negaranya sendiri ya mbak, jadi karena saya merasakan di Perth dan di Melbourne itu, seperti perpustakaan, lalu ruang publik, itu sangat-sangat ramah anak begitu. Jadi, anak-anak tuh bisa sibuk, tidak ada waktu untuk main gawai lah, karena disediakan fasilitas, dan itu pastinya berdasarkan penelitian, berdasarkan bukti, yang mendukung perkembangan mental dan kognitif semuanya untuk anak-anak. Dan saya merasanya juga untuk mendapatkan Australia Awards ini, tidak hanya ke personal saya ya, tapi juga seperti sebuah keberuntungan juga untuk keluarga. Mendapatkan pengalaman ke sana.
Raissa Almira: Oh berarti ibu sempat tinggal di Perth dulu?
Dr Yulisna Mutia Sari: Di Perth dulu lalu setelah itu pindah ke Melbourne. Jadi di Perth itu sekitar satu tahun setengah lalu supervisor saya pindah.
Raissa Almira: Saya kira belum sempat ke Perth langsung ke Monash.
Dr Yulisna Mutia Sari: Sudah sempat ke Perth. Makanya sempat galau ya. Galau karena anak-anak sudah sekolah lalu suami saya sudah kerja. Jadi kebetulan suami saya, Mas Rido, itu mengambil cuti di luar tanggungan negara. Kebetulan PNS dan bisa menemani saya ke sana. Berhubung saya mahasiswa PhD, maka suami saya bisa kerja penuh waktu di Australia.
Raissa Almira: Penuh waktu bisa? Pendamping ya?.
Dr Yulisna Mutia Sari: Betul, jadi suami saya sudah dapat kerjaan. Kan ketika pindah, tapi akhirnya kita pertimbangkan, terus dari representatif Australia Awards juga memberikan masukan-masukan yang akhirnya oke, ini yang kita butuhkan untuk membuat keputusan untuk pindah.
Raissa Almira: Tapi Alhamdulillah lancar-lancar saja Bu ya.
Dr Yulisna Mutia Sari: Alhamdulillah.
Raissa Almira: Sama dua universitas ini. Keren sekali. Oke, Bu. Tadi kan sudah sempat menyebutkan mengenai pendidikan dan juga buat anak-anak seperti ruang publik, dan lain-lain. Mungkin Ibu bisa cerita mengenai hal spesifik nih mengenai kesehatan dan juga layanan publik buat Ibu dan keluarga di Australia.
Dr Yulisna Mutia Sari: Oke, baik. Karena kemarin saya bawa anak bayi kan pasti banyak butuh didukung dari sisi kesehatan, seperti vaksinasi dan sebagainya. Jadi disana semua untuk kesehatan didukung ya. Vaksin itu gratis dan sebagainya. Lalu juga waktu itu saya sempat sakit ya, jadi datang dulu ke dokter umum, lalu dirujuk ke spesialis begitu, dan itu juga lagi-lagi representatif Australia Awards juga mendukung, menanyakan bagaimana, lalu "Do you need to take leave? Several days or weeks?" Seperti itu. Jadi, untuk kesehatan maksudnya jangan khawatir begitu. Sistem kesehatan di sana bagus semuanya. Lalu juga Australia Awards bahkan juga mendukung dan membantu.
Raissa Almira: Kalau layanan publik seperti, bus, transportasi publik, itu bagaimana Bu?
Dr Yulisna Mutia Sari: Oke, pastinya layanan publik sangat ini ya, jadi pastinya berbeda di setiap negara bagian, misalnya jadi kalau di Perth itu berlaku concession (potongan harga), waktu itu saya di Curtin. Jadi, misalnya kita punya Student card begitu, jadi bisa daftar untuk concession. Jadi naik bus dan dapat diskon dan bayarnya bisa 50-70 sen. Jadi kurang dari $1 gitu. Apalagi dia seperti pakai one loop, two loop. Jadi kalau misalnya masih di dalam satu lingkaran itu kurang dari $1 gitu. Mungkin kalau Melbourne berubah-berubah ya. Terakhir saya dengar mungkin tidak dapat concession.
Raissa Almira: Jadi tergantung negara bagian ya Bu ya?
Dr Yulisna Mutia Sari: Tapi akses transportasi memang pastinya lebih maju di Melbourne. Maksudnya pilihan yang mulai dari tram, kereta, bus. Jadi kalau bus itu, kalau di Perth, memang di area Perth dan sekitarnya yang bagus. Maksudnya 10 menit sekali dan sebagainya. Mungkin kalau sudah ke pinggiran kota itu harus lumayan menunggunya, setengah jam sekali atau 45 menit sekali. Dan karena saya berkeluarga, saya membeli mobil. Jadi memang banyak transportasi. Kalau bareng sama keluarga, pakai mobil sendiri.
Raissa Almira: Oke, Bu. Ibu sudah pernah tinggal di dua negara bagian yang berbeda. Menurut Ibu, bagaimana peran, kondisi kota, ataupun komunitas terhadap kesehatan mental Ibu dan menciptakan rasa aman dan juga menyeimbangkan keseimbangan hidupnya? Peran komunitas juga peran kotanya.
Dr Yulisna Mutia Sari: Oke. Kalau untuk kotanya, mungkin ada perbedaan sedikit ya, karena Perth lebih sepi. Jadi memang awal-awal ketika masih di Perth itu, karena saya pindah dari Indonesia (dari Depok) yang sangat padat dan begitu ke Perth yang sepi, mungkin awal-awalnya merasa sepi sekali ya, tidak ada suara gitu ya. Tapi seiring berjalannya waktu, sekitar satu bulanan, mulai merasa nyaman sekali suasananya untuk belajar. Jadi malam itu sudah tidak ada suara, lalu juga ruang publiknya banyak. Seperti taman-taman itu saya hanya tinggal menyeberang saja dari rumah dan sudah ada taman. Nanti sekitar 100 meter sudah ada taman lagi. Jadi merasa seakan-akan liburan tiap hari. Jadi setelah pusing-pusing, bisa lanjut mengerjakan riset.
Raissa Almira: Ke taman saja.
Dr Yulisna Mutia Sari: Ke taman saja atau bahkan di kampus, semua kampus di Australia itu pasti menyediakan seperti ruang terbuka yang keren-keren. Seperti duduk di rumput, orang Australia suka ya sambil baca buku, sambil mengerjakan di bawah matahari dan di atas rumput. Jadi dari lingkungan dan natural, kotanya, daerahnya itu sangat membantu. Kita juga kalau misalnya stagnan mengerjakan riset, capek, 1 jam, 2 jam di ruangan, kita bisa keluar.
Raissa Almira: Jadi, bukan hanya orangnya saja yang sangat memprioritaskan keseimbangan hidup, tapi juga lingkungannya.
Dr Yulisna Mutia Sari: Lingkungannya.
Raissa Almira: Iya memang keren banget Australia. Menariknya itu kan S3 bukan jadi fase terakhir ya Bu? Pasti jadi batu loncatan untuk langkah berikutnya, dan bagaimana transisi ibu dari seorang mahasiswa ke praktisi sekarang? Pekerjaan ibu sekarang, bagaimana dan apakah ada tantangan ketika ibu transisi dari mahasiswa ke posisi profesional?
Dr. Yulisna Mutia Sari: Jadi memang kebetulan setelah lulus, Alhamdulillah, saya akhirnya ke Monash University Indonesia. Jadi sama-sama Monash. Tapi memang sepenting itu relasi dan sebagainya. Jadi prosesnya pastinya awal-awal karena menjadi mahasiswa yang ada supervisor-nya yang membantu ya. Akhirnya ke dunia kerja melakukan riset. Jadi sebenarnya PhD itu baru awal, ya Mbak, baru mendapatkan lisensi untuk melakukan penelitian secara mandiri. Dan akhirnya memasuki dunia kerja ini berarti masuk ke dunia nyata untuk melakukan riset secara mandiri. Tetapi memang pastinya pengalaman-pengalaman waktu di Australia, lalu relasi dan sebagainya, lalu pengalaman untuk memimpin sebuah proyek kita sendiri, proyek tesis kita sendiri, itu pastinya sangat bermanfaat ketika masuk ke dunia kerja yang akhirnya mungkin bekerja di multidisiplin dan di satu tim riset.
Raissa Almira: Apakah ada tantangan, Bu, saat transisi ini atau lancar-lancar saja?
Dr. Yulisna Mutia Sari: Mungkin kalau di kasus saya, karena ketika saya lulus, itu kan saya jadi postdoctoral research fellow, ya.
Raissa Almira: Oh, jadi postdoc jatuhnya, ya?
Dr. Yulisna Mutia Sari: Postdoc jatuhnya.
Raissa Almira: Oh, oke.
Dr. Yulisna Mutia Sari: Jadi proyeknya berarti tergantung. Maksudnya, saat itu saya melakukan proyek pertama saya tentang perubahan iklim yang sedikit berbeda, ya, dan bekerjanya itu multidisiplin, Mbak Raissa. Jadi saya di jalur orang-orang lanjut usia. Sebenarnya, membahas dampak perubahan iklim terhadap kesehatan lanjut usia begitu. Tetapi di dalam tim itu kan multidisiplin, ya. Jadi ada yang memang ahli perubahan iklim, ada yang desain perkotaan, ada yang dari edukasi, dari geografi begitu, bahkan dari ahli gender juga ada. Jadi benar-benar satu tim yang beda-beda. Itu pembelajaran baru lagi. Artinya, setiap langkah itu pembelajaran baru. Kebetulan proyek pertama saya itu didanai oleh KONEKSI dari DFAT juga. Jadi timnya juga bersama orang Australia. Tapi lagi-lagi itu menjadi sebuah—karena sudah pernah berelasi di sana, akhirnya itu juga membuat jalur karier ke depannya.
Raissa Almira: Jadi menjembatani ya, Bu, ya?
Dr. Yulisna Mutia Sari: Menjembatani, betul.
Raissa Almira: Oke, jadi Ibu sudah menyebut mengenai transisi dan juga penerapannya, Bu, ya. Mungkin bisa dielaborasi lagi, bagaimana pekerjaan Ibu sekarang itu terpengaruh oleh pengalaman Ibu saat PhD? Seperti penerapannya, kepemimpinan, perancangan, mungkin bisa lebih dielaborasi.
Dr. Yulisna Mutia Sari: Oke. Jadi, seperti yang saya bilang, pengalaman waktu PhD itu kan benar-benar sebagai jalur atau fondasi, betul. Fondasi untuk bisa akhirnya kita melangkah ke jalur karier sebagai peneliti. Jadi, kemampuan-kemampuan dasar mulai dari misalnya berpikir kritis, lalu kemampuan melakukan penelitian yang sesuai dengan etika-etika penelitian, misalnya. Lalu juga bagaimana bekerja sama dalam tim begitu. Dan juga berbagai kemampuan menulis, melakukan analisis, dan sebagainya. Itu saya dapatkan dari universitas terbaik; rata-rata universitas di Australia itu kan pasti masuk ke yang terbaik di dunia.
Raissa Almira: Iya, betul.
Dr. Yulisna Mutia Sari: Jadi misalnya, Monash itu sekarang di peringkat 6 atau 7 misalnya. Jadi pastinya ekosistem riset dan juga fondasi yang ditanamkan itu sangat-sangat menjadi sesuatu yang sangat penting untuk bisa karier ke depannya.
Raissa Almira: Oke, kalau berbicara tentang keterampilan, bagaimana, Bu? Seperti komunikasi, berpikir kritis, kepemimpinan, boleh cerita mengenai keterampilan yang Ibu dapatkan?
Dr. Yulisna Mutia Sari: Oke, jadi selama riset, kalau di Australia itu mungkin berbeda-beda di setiap jurusan. Tetapi di jurusan saya, Fisioterapi di Monash University, itu memang kita diminta untuk melakukan secara mandiri. Artinya memimpin riset kita sendiri. Jadi, supervisor adalah petunjuk, seperti konsultasi dan sebagainya. Jadi benar-benar dari awal kita berarti sudah belajar kepemimpinan dan juga independen, mandiri, begitu. Setelah itu kemampuan lainnya yang tidak kalah penting adalah kemampuan untuk memecahkan masalah pastinya. Jadi selama empat tahun melakukan riset begitu, itu seperti maraton, ya; jadi bukan sprint. Jadi kesabaran itu benar-benar dijaga, ketangguhan, bagaimana kita menyelesaikan masalah. Bahkan saya juga bilang kalau guyonan sama teman-teman sesama PhD itu, sebenarnya PhD itu mungkin sekian persen tidak 100% tentang akademik saja, tetapi juga keterampilan kita untuk kehidupan sebenarnya. Jadi bagaimana kita beradaptasi, bagaimana kemampuan ketahanan kita untuk bertahan, itu benar-benar saya seperti mendapatkan ilmu baru yang mungkin tidak akan saya dapatkan kalau saya tidak studi ke Australia.
Raissa Almira: Baik, Bu. Kalau kita ngomongin riset lagi nih, Bu. Kan beda ya Australia dan Indonesia, daerahnya, dan Ibu kan dilatihnya di sana tuh.
Dr. Yulisna Mutia Sari: Betul.
Raissa Almira: Bagaimana relevansi antara dua negara ini? Terutama pengalaman Ibu di sana, konteks Indonesia, terutama dalam menciptakan dampak yang besar ke Indonesia.
Dr. Yulisna Mutia Sari: Oke, baik. Jadi, tadi saya cerita, saya ikut supervisor saya dari Curtin ke Monash begitu. Jadi memang supervisor saya ini adalah ahli fisioterapi pada lansia yang juga fokus di Asia. Jadi secara konteks juga dia memang sudah nyambung dengan keahlian saya begitu. Jadinya, kenapa saya tetap mengikuti atau memilih supervisor itu karena memang fokus saya pada lanjut usia di Indonesia. Jadi sampel pesertanya itu di Indonesia, dan saya melihat konteks lokal. Jadi salah satu tulisan saya misalnya pencegahan jatuh pada lansia, begitu dari perspektif Asia Tenggara. Jadi memang kita membahasnya bagaimana dengan di Indonesia. Jadi cerita-cerita baik ataupun sesuatu hal yang sudah baik di Australia itu bisa kita adaptasi, tetapi tidak mengadaptasi langsung 100% plek begitu. Karena ada berbagai perbedaan ya, ada konteks. Mulai dari pelayanan kesehatan, lalu juga budaya, kepercayaan, dan sebagainya itu berbeda. Hal itu yang saya coba selidiki. Jadi makanya kenapa telehealth untuk di Indonesia bisa menjadi percontohan yang tadi saya bilang itu karena secara budaya, Indonesia, Malaysia, Thailand, dan negara-negara Asia itu punya persamaan. Misalnya, dari segi bagaimana mereka menunjukkan filial piety atau bakti terhadap orang tua, itu menjadi salah satu nilai ketika mereka merawat lansia, misalnya seperti itu. Itu menjadi komponen yang penting waktu saya melakukan studi itu.
Raissa Almira: Jadi memang ada relevansinya ya, dari dosen pembimbingnya dan juga studi.
Dr Yulisna Mutia Sari: Betul.
Raissa Almira: Baik. Oke, pertanyaan terakhir Bu. Apakah ada pesan untuk para calon pendaftar Australia Awards Scholarship, yang fokus pada PhD, mungkin lebih ke arah akademisnya, juga kehidupan personal, dan juga yang paling penting, dampak risetnya ke Indonesia, Bu? Silakan.
Dr Yulisna Mutia Sari: Oke, OzListeners, bagi yang ingin mendaftar ataupun ingin sekolah lagi S3 di negara mana pun, Australia menjadi salah satu pilihan yang terbaik karena tidak hanya saya yang mendapatkan pengalaman yang berharga, mulai dari pengalaman personal, akademik dan juga untuk pengembangan diri, tetapi juga bagi yang mungkin sudah memiliki keluarga, itu juga memberikan pengalaman yang berharga juga untuk keluarga, untuk anak-anak. Selain itu juga, Australia menjadi salah satu negara terbaik juga untuk di akademis ya. Jadi kampus-kampus di Australia misalnya teman-teman bisa cek begitu di peringkat-peringkat yang teratas, QS ranking, jadi tidak perlu diragukan lagi untuk kualitas dan juga dampak risetnya pastinya, karena di sana untuk studi riset itu memang sudah sangat maju sekali dan negaranya juga dalam mengambil semua kebijakan berdasarkan bukti, jadi artinya riset itu menjadi sebuah dasar fondasi untuk dalam pengambilan kebijakan di negara maupun dampaknya untuk masyarakat pastinya.
Raissa Almira: Oke, sebuah pesan yang wajib banget diingat. Terima kasih ya Bu Yulisna. Terima kasih sudah datang.
Dr Yulisna Mutia Sari: Sama-sama, Mbak Raissa.
Raissa Almira: Oke, buat teman-teman, ayo semangat untuk daftar Australia Awards Scholarship buat S2 ataupun S3. Oke teman-teman, aku mau mengingatkan semua informasi akan di-update di website Australia Awards Indonesia. Jadi jangan lupa untuk ke sana buat cek info lengkapnya dan juga media sosial Kedubes dan juga Konjen Australia disini. Selain itu, Australia Awards Indonesia juga mau bagi-bagi lima giveaway suvenir untuk lima orang yang membagikan podcast ini ke media sosial. Teman-teman boleh banget share di X ataupun di Instagram story atau Post dan juga mention Kedubes Australia dan gunakan hashtag #OzAlumPodcast. Pemenang yang beruntung akan dihubungi oleh tim AAI, tapi jangan lupa juga untuk isi linknya di bawah ini untuk konfirmasi ya teman-teman. Terima kasih, sampai berjumpa lagi di episode selanjutnya.
*outro*